Dengan pergantian waktu setahun, menunjukkan bahwa umur kita bertambah satu
tahun,tetapi kesempatan
hidup kita di dunia telah
berkurang pula satu tahun,yang berarti semakin jauh kita dari kelahiran dan semakin dekat kita kepada kematian.
Hasan al-Basri
meng umpamakan manusia bagaikan kumpulan hari-hari,
setiap hari yang pergi,kita seperti kehilangan bagian dari diri kita.Apa yang telah pergi tidak akan pernah kembali.
Tahun baru hijriyah
mengingatkan kita kepada
kejadian spektakuler yang
pernah terjadi dalam sejarah
Islam,yaitu peristiwa "hijrah".
Hijrah secara harfiah artinya
perpindahan dari satu negeri
ke negeri lain, dari satu
kawasan ke kawasan lain,
atau perubahan lokasi dari
titik tertentu ke titik yang
lain.Secara historis,hijrah adalah peristiwa keberangkatan nabi besar Muhammad s.a.w. dan
para sahabatnya dari kota
Makkah menuju kota Yathrib,
yang kemudian disebut al-Madinah al-Munawwarah.
Ditetapkannya peristiwa hijrah
Rasulullah dari Makkah ke
Madinah sebagai awal tahun
dari penanggalan atau kalender Islam,mengandung beberapa hikmah yang sangat berharga bagi kaum muslimin,diantaranya:
Pertama: perisitwa hijrah
Rasululah dan para sahabatnya dari Makkah ke
Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan
memiliki majna yang sangat
berarti bagi setiap muslim,
karena hijrah merupakan
tonggak kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di Makkah menuju suasana yang prospektif di Madinah.
Kedua: Hijrah mengandung
semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa opimisme
yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang
buruk kepada yang baik, dan
hijrah daru hal-hal yang baik
ke yang lebih baik.
Rasulullah s.a.w. dan para
sahabatnya telah melawan
rasa sedih dan takut dengan
berhijrah, meski harus
meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara dan harta benda.
Ketiga: Hijrah mengandung
semangat persaudaraan,
seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w. pada saat
beliau mempersaudarakan antara kaum muhajirin dengan kaum anshar,bahkan beliau telah membina hubungan baik
dengan beberapa kelompok
yahudi yang hidup di Madinah
dan sekitarnya.
Dalam konteks sekarang ini,
pemaknaan hijrah tentu bukan
selalu harus identik dengan
meninggalkan kampung
halaman seperti yang dilakukan oleh Rasulullah
s.a.w. dan kaum muhajirin,
tetapi pemaknaan hijrah lebih
kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri,karena hijrah dalam arti
seperti ini tidak akan pernah
berhenti.Dalam sebuah riwayat
dikisahkan, ada seorang yang
mendatangi Rasulullah dan
berkata: wahai Rasulullah,s
aya baru saja mengunjungi
kaum yang berpendapat
bahwa hijrah telah telah
berakhir, Rasulullah
bersabda:”Sesungguhnya
hijrah itu tidak ada hentinya,
sehingga terhentinya taubat,
dan taubat itu tidak ada
hentinya sehingga matahari
terbit dari sebelah barat”.
Untuk itu, mari kita jadikan
makna hijrah dengan
semangat menyambut masa
yang akan datang dengan
penuh harapan, kita yakin
bahwa sehabis gelap akan
terbit terang, setelah
kesusahan akan datang
kemudahan dan kita yakin
bahwa pagi pasti akan datang
walaupun malam terasa
begitu lama dan panjang.
Karena roda kehidupan selalu
berputar dan tidak mungkin
berhenti.
Imam Syafi’i pernah
ebrkata:”Memang sebeanrnya
zaman itu sugguh
menakjubkan,s ekali waktu
engkau akan mengalami
keterpurukan, tetapi pada
saat yang lain engkau
memperoleh kejayaan”.
Mari kita jadikan peralihan
tahun sebagai momen untuk
melihat kembali catatan yang
mewarnai perjalanan hidup
masa lalu, dengan melakukan
renungan atas apa yang telah
kita perbuat. Kita gunakan
kesempatan ini untuk
memperbaiki dan
meningkatkan kualitas hidup
di dunia dan akhirat kelak,
dengan bercermin kepada
nilai-nilai dan semangat hijrah
dalam kehidupan beragama
dan bermasyarakat, karena
sesungguhnya Allah menjadi
pergantian siang dan malam
untuk dijadukan pelajaran dan
mengungkapkan rasa syukur
TRIMAKASIH ATAS
KUNJUNGAN ANDA DI
WAPSITE SAYA DAN TETAP SELALU TERHUBUNG DIMANA SAJA ANDA BERADA,BERBAGI
SUKA MAUPUN DUKA,AKHIR KATA DENGAN MENGUCAPKAN BASMALAH SAYA AKHIRI KIRIMAN SAYA
INI....WASALAMUALAIKU WAROHMATULLAHI
WABAROKATU.